Rabu, 25 Juli 2018

Menatap Palangkaraya Dari Atas Bukit Tangkiling

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@lerengbukit/menatap-palangkaraya-dari-atas-bukit-tangkiling

Palangkaraya tengah naik daun setelah ramai disebut-sebut sebagai calon ibukota negara. Saat berkunjung ke Palangkaraya, jangan lupa berkunjung ke Bukit Tangkiling, di mana Anda bisa menatap kota Palangkaraya dari atas.

Bukit Tangkiling sendiri berjarak sekitar 34 km dari pusat Kota Palangkaraya. Untuk sampai ke sini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit. Setibanya di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, segera mulailah perjalanan mendaki. Untuk sampai ke puncak bukit, Anda harus menaiki sejumlah anak tangga. Namun saat hampir sampai, Anda harus mendaki area yang lumayan terjal. Jika lelah, berhentilah sejenak di beberapa pos yang disediakan ataupun di warung makanan-minuman yang tersedia di area atas.


Gambar 1. Untuk mencapai bukit harus menaiki sejumlah anak tangga

Di Bukit Tangkiling ini, Anda akan menemukan banyak sekali batu-batu besar. Salah satunya yang terkenal adalah Batu Banama. Bentuk batu ini seperti perahu. Konon katanya, dulunya batu ini adalah bahtera (banama). Bisa dibilang, legenda Batu Banama mirip dengan legenda Sangkuriang di Jawa Barat, karena menceritakan tentang pemuda Dayak yang menikahi ibu kandungnya.

Legenda Bukit Tangkiling

Dulu hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Saat sedang memasak, si anak merengek meminta makan hingga membuat sang ibu memukul kepala si anak sampai kepalanya berdarah. Merasa diperlakukan kejam, si anak meninggalkan rumah dan berlari ke dermaga. Sang ibu pun merasa menyesal dan terus mencari, namun tak juga menemukan anaknya. Sementara itu, sang anak masuk ke kapal dan bertemu dengan kapten kapal yang kaya. Di sana ia menceritakan perihal ibunya yang sudah memukul kepalanya. Merasa iba, kapten kapal itu pun merawat lukanya dan menjadikannya anak angkat dengan nama “Tan Kim Lin”.

Setelah beberapa tahun, Tan Kim Lin tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah. Suatu ketika, tanpa sadar ia berlabuh di kampung halamannya. Saat itulah ia bertemu dengan wanita cantik yang sedang membawa sejumlah barang untuk dibarter dengan barang dagangan Tan Kim Lin. Merasa terpesona dengan kecantikan wanita itu, Tan Kin Lin pun jatuh cinta dan langsung melamarnya meski wanita bergelar Bakuwu itu mengaku sudah pernah menikah sebelumnya.

Singkat cerita, setelah melangsungkan pesta pernikahan, keduanya berbulan madu di atas banamanya. Saat itulah, Bakuwu yang sedang mencari kutu di kepala Tan Kin Lin melihat bekas luka. Tan Kin Lin pun bercerita bahwa dulu ia dipukul oleh ibunya sendiri, hingga kemudian meninggalkan kampung halamannya dan menjadi anak angkat kapten kapal yang kaya. Mendengar itu, terkejutlah keduanya ketika saling mengetahui bahwa mereka adalah ibu dan anak kandung. Tan Kin Lin pun berlari memasuki hutan, sementara Bakuwu tetap di atas banama. Di dalam hutan, Tan Kin Lin berburu babi dan kijang untuk dijadikan hewan kurban dalam acara adat penebusan kesalahannya.

Setelah berhasil mendapat hewan buruannya, ia mengumpulkan semua warga untuk menghadiri pesta penebusan (Pali) tersebut. Namun di tengah acara, Raja Pali mengirimkan kilat dan petir untuk menghukum Tan Kin Lin, hingga ia dan keenam pengawalnya berubah menjadi batu. Banama miliknya juga berubah menjadi batu, dimana Bakuwu terkurung di dalamnya. Sejak itu, oleh dialek masyarakat Dayak setempat, area di sekitar Batu Banama disebut sebagai Bukit Tangkiling (Bermula dari Tan Kin Lin).


Gambar 2. Batu Banama

Dari atas batu

Setibanya di area puncak, Anda akan menemukan batu-batu besar yang mana di atasnya terdapat patung Hindu yang dialasi selendang berwarna kuning. Naiklah ke atas batu dan lihatlah bagaimana Palangkaraya dari atas. Di segala penjuru, Anda akan melihat rimbunnya pepohonan dan beberapa pepohonan. Palangkaraya sendiri memang dikenal memiliki banyak kawasan hutan, di mana salah satunya adalah hutan lindung di Taman Nasional Sebangau.


Gambar 3. Palangkaraya dilihat dari atas

Puas menikmati Palangkaraya dari atas dan menikmati anginnya yang sepoi-sepoi, Anda bisa langsung melanjutkan perjalanan untuk menuruni bukit. Bisa dengan menuruni jalan awal keberangkatan, bisa juga menuruni jalan yang lain. Hanya saja, jika Anda menuruni jalan yang satunya, Anda tidak akan menemukan sejumlah anak tangga batu. Di sini, Anda akan merasakan trekking melewati jalanan yang terjal dan terkadang sedikit licin jika sebelumnya hari hujan.


Gambar 4. Bangunan peribadatan Hindu

Sesekali di tengah perjalanan, Anda akan menemukan bangunan-bangunan kecil yang diselimuti selendang kuning dan bangunan pura yang menciptakan nuansa mistis. Namun tak mengapa, Anda hanya perlu menjaga sikap. Bukankah menjaga kesopanan juga bagian penting dari perjalanan? Puas melihat-lihat area pura yang kosong, silahkan lanjutkan perjalanan karena tidak lama lagi Anda akan tiba di titik awal.

Akses

Dikarenakan akses angkutan umum yang kurang memadai, Anda harus menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke Bukit Tangkiling. Perjalanan bisa dimulai dari Titik Nol Kilometer Palangkaraya atau yang biasa dikenal dengan Bundaran Besar, menuju Jalan Tjilik Riwut. Setelah menempuh perjalanan 34 km, Anda akan menemukan gapura Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling di sisi kiri jalan. Untuk masuk ke dalam Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Anda hanya perlu membayar Rp 10.000 per orang.

Oleh: Rahel Simbolon
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber:
Perjalanan pribadi penulis

Sumber gambar:
Dokumentasi pribadi penulis

Jumat, 06 April 2018

Menikmati Arsitektur Jembatan Suramadu Di Surabaya

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@puncakbukit/menikmati-arsitektur-jembatan-suramadu-di-surabaya

Pada waktu malam hari ketika sedang musim kemarau dan bulan bersinar terang saat bulan purnama tiba, menghabiskan waktu luang di taman Jembatan Suramadu, Kota Surabaya, merupakan kegiatan santai yang banyak digemari oleh semua usia terutama remaja laki – laki bersama dengan teman – teman mereka. Lampu - lampu cantik yang berjejer rapi di sepanjang menara jembatan mampu menghasilkan kombinasi warna - warni yang indah dipandang mata dari kejauhan dan semakin membuat suasana lebih menarik untuk dinikmati apalagi ketika sedang musim liburan. Pas untuk diabadikan dengan kamera.

Bagi para pelancong yang menaiki kendaraan dan ingin melewati jembatan ini, mereka harus membayar tarif jalan tol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah setempat, untuk roda empat golongan satu seperti sedan dan truk kecil adalah 30.000 rupiah sedangkan untuk kendaraan roda dua seperti sepeda motor hanya perlu membayar seharga 3.000 rupiah saja. Alamat lengkap adalah Jalan Tol Suramadu, Tambak Wedi, Kenjeran, Surabaya.

Surabaya, Bridge, Suramadu, Sky, Java, Madura, Photo
Gambar : Jembatan Suramadu di waktu malam hari nan eksotik

Jembatan Nasional Suramadu adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Madura. Jembatan Suramadu ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yaitu mencapai sekitar 5.438 meter. Saat malam hari tiba, jembatan ini akan dihiasi oleh puluhan lampu - lampu yang menambah kecantikan pemandangan di waktu malam hari sekitar area jembatan dan taman – taman di sekitarnya Tak mengherankan kalau saat ini jembatan ini dijadikan sebagai salah satu objek wisata yang cukup terkenal di Surabaya.

Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian utama yaitu jembatan utama, jembatan layang, serta jembatan penghubung. Pertama adalah jalan layang yang bergantung di sisi masing - masing pulau dengan panjang di sisi Surabaya sekitar 1458 meter dan di sisi Madura 1818 meter, setelah itu disambungkan dengan jembatan penghubung yang masing - masing memiliki panjang sekitar 627 meter, dan yang terakhir adalah jembatan utama yang berada di tengah - tengah dan terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping yang panjangnya 192 meter dan bentang utama yang panjangnya 434 meter. Cable stayed berfungsi sebagai konstruksi jembatan dengan dua menara kembar yang memiliki tinggi rata – rata 140 meter sebagai penopangnya. Terdapat ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan.

Cara asyik lainnya untuk dapat menikmati keindahan Jembatan Suramadu Surabaya selain tersebut di atas adalah dengan naik kapal atau menyewa perahu. Dengan kapal, anda harus terlebih dahulu menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak. Namun jika anda suka memakai perahu, penyewaan Perahu Cokroaminoto bisa dengan mudah anda temukan di dekat kaki Jembatan Suramadu. Perahu – perahu tersebut akan mengantarkan para wisatawan berkeliling sungai sekitar satu jam lebih yang bisa memuat hampir 20 orang penumpang dengan beberapa fasilitas aman dan nyaman tersedia, seperti pelampung / baju karet pengaman. Jakur darat, anda tinggal menuju ke Jembatan Suramadu dari Terminal Bungurasih, naiklah bis yang menuju ke Madura kemudian turun sebelum tol apabila anda ingin melihat Jembatan Suramadu dari sisi Surabaya. Tapi jika ingin tetap melanjutkan perjalanan sampai di Pelabuhan Kamal, anda membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Bisa dengan menggunakan motor, namun harus tetap waspada dan hati – hati karena angin yang berhembus kadang – kadang sangat kencang, dan jangan lupa selalu ingat untuk mematuhi rambu - rambu yang berlaku.

Pemandangan lain yang bisa anda nikmati di Jembatan Suramadu ini pada waktu siang hari adalah saat anda melintas melalui jembatan ini, layangkan pandangan anda ke Selat Madura dari atas jembatan. Terdapat lautan yang mengelilingi di samping kanan dan kiri yang kadang – kadang membuat anda seperti sedang berada di luar negeri, menikmati sensasi serasa terbang di atas laut yang membentang tenang dan berwarna abu - abu. Jika anda memandang ke arah Surabaya, anda bisa melihat keunikan Patung Jalesveva Jayamahe dan kawasan Pantai Kenjeran yang terlihat membiru oleh pantulan langit di atasnya, sesekali anda bisa menyaksikan kapal pesiar sedang berlayar.

Keberadaan Jembatan Suramadu merupakan sebuah potensi wisata air yang cukup menarik berlokasi berdekatan dengan Pulau Madura dan kini sedang tereksplore. Banyak wisatawan asing yang bersedia mendatangi pulau garam ini di mana Jembatan Suramadu telah memberi akses mudah bagi wisatawan – wisatawan tersebut untuk menuju ke Madura. Hanya dengan membayar Rp. 30.000 untuk roda empat dan Rp. 3.000 untuk roda dua, mereka bisa melintas di jembatan yang megah ini dengan aman dan nyaman. Terutama di malam hari, udara sejuk dan cukup bersih dan lampu - lampu jembatan adalah media menambah kemegahan Jembatan Suramadu sebagai salah satu objek wisata yang patut untuk anda kunjungi. Tak mengherankan di malam hari, jembatan ini menjadi obyek menarik untuk para pencinta fotografi.

Semoga anda tertarik.

Penulis : Kadek Nila Utami
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber gambar : https://pixabay.com/en/surabaya-bridge-suramadu-sky-java-695665/