Jumat, 16 November 2018

Taman Ya’ahowu, Icon Pariwisata Kota Gunungsitoli

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@lerengbukit/taman-ya-ahowu-icon-pariwisata-kota-gunungsitoli

Kota Gunungsitoli adalah salah satu daerah otonom di Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Nias pada tahun 2008. Sejak terbentuk menjadi sebuah kota, Gunungsitoli mulai berbenah untuk memajukan daerahnya. Salah satu aspek pembangunan yang sedang giat dilaksanakan di Kota Gunungsitoli adalah pembangunan di bidang pariwisata. Pariwisata sangat cocok dikembangkan di Kota Gunungsitoli, mengingat kota ini memiliki ciri sebagai kota jasa dan industri.

Salah satu objek wisata yang menjadi icon Kota Gunungsitoli saat ini adalah Taman Ya’ahowu. Taman Ya’ahowu terletak di pusat kota, yakni di pinggiran Jalan Pelabuhan Lama Kelurahan Pasar Gunungsitoli. Istilah “Ya’ahowu” sendiri adalah sebuah kata dalam Bahasa Nias, yakni bahasa asli suku Nias sebagai suku asli di Kepulauan Nias yang juga penduduk Gunungsitoli, yang berarti “semoga diberkati”. Kata “Ya’ahowu” sehari-hari digunakan sebagai salam atau sapaan khas masyarakat Nias bila memulai pembicaraan atau bertemu dengan sesama, hal ini sama seperti penggunaan kata sapaan “Horas” dalam masyarakat suku Batak.

C:\NEW 30_09_2016\BAPPEDA NEW\2017\UMUM\EKSPOS RENCANA INVESTASI\15107385_10206863474657159_5495755158041734012_n.jpg

Areal pertapakan taman Ya’ahowu pada mulanya adalah jalan biasa di pinggir pantai, bekas kompleks pelabuhan lama, pelabuhan pertama di Gunungsitoli. Ketika peristiwa gempa bumi Nias pada tahun 2005, daerah ini hancur oleh gempa dan terancam abrasi air laut sehingga mengancam stabilitas tanah di daerah perkotaan Gunungsitoli. Untuk menyelamatkan areal ini, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias melakukan rehabilitasi, dengan melakukan perkuatan dan penimbunan tanah di sekitar daerah pantai ini. Alhasil, rehabilitasi ini telah menambah luas dan keindahan areal ini. Meskipun demikian, areal ini masih belum dimanfaatkan maksimal sebagai daerah wisata, yang mana pada saat itu hanya difungsikan sebagai daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan tempat tinggal sementara pengungsi korban gempa bumi.



Pada tahun 2016 Pemerintah Kota Gunungsitoli mulai menertibkan dan menata areal Jalan Pelabuhan Lama ini. Awalnya ini dimotivasi oleh keberadaan Kota Gunungsitoli sebagai tuan rumah acara penutupan Pesta Ya’ahowu pada saat itu, yakni pesta seni dan budaya tahunan yang dilaksanakan oleh kabupaten/ kota di Kepulauan Nias. Sejak itu, areal yang dulu dikenal dengan nama Jalan Pelabuhan Lama atau Eks TPI ini akhirnya dinamakan dengan Taman Ya’ahowu. Pemerintah Kota Gunungsitoli secara bertahap menata keindahan Taman Ya’ahowu dengan pemerataan lahan, penghijauan dengan penanaman rumput, pohon dan bunga, pembangunan tempat duduk, jalan setapak, panggung menyerupai bentuk rumah adat Nias, lampu-lampu hias, toilet, kantin dan sarana publik lainnya. Seluruh bangunan liar yang mengganggu pemandangan ditertibkan dan masyarakat yang memiliki bangunan di sekitar lokasi taman dihimbau untuk mencat bangunannya dengan bentuk dan warna ornamen budaya Nias yakni merah, kuning dan hitam. Areal Jalan Pelabuhan Lama di sekitar Taman Ya’ahowu diramaikan juga dengan aneka jajanan kuliner yang memanjakan pengunjung.



Sejak penataan secara bertahap yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Gunungsitoli yang memperindah Taman Ya’ahowu, masyarakat semakin banyak berkunjung ke sana untuk menikmati indahnya pemandangan laut dan keindahan taman. Di lokasi ini sangat sering diadakan kegiatan atraksi atau event yang menghibur masyarakat baik oleh pemerintah maupun dari pihak masyarakat seperti perayaan hari-hari besar agama, kegiatan olahraga dan seni budaya. Bahkan lokasi ini telah dua kali digunakan sebagai lokasi pelaksanaan Pesta Ya’ahowu pada tahun 2016 dan 2017 yang menghadirkan ribuan orang dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Secara rutin, Dinas Pariwisata Kota Gunungsitoli menjadwalkan pelaksanaan berbagai event di taman ini untuk menghibur masyarakat. Alhasil, lokasi yang tadinya tidak bernilai ekonomis, akhirnya menjadi lokasi pariwisata dan berdampak ekonomis bagi masyarakat sekitar, sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat umum maupun wisatawan domestik yang datang berkunjung ke Kota Gunungsitoli.

F:\IMG_4465.JPG

F:\IMG_4300.JPG

Hingga tahun 2018, Taman Ya’ahowu semakin diperindah dengan berbagai sarana antara lain penambahan lampu-lampu hias, pembangunan areal jogging serta perluasan areal taman. Biaya pemeliharaan dan peningkatan Taman Ya’ahowu secara rutin dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Gunungsitoli setiap tahun anggaran. Keberadaan Taman Ya’ahowu sebagai taman kota menjadi fenomena baru kepariwisataan di Kepulauan Nias, serta menjadi icon pariwisata Kota Gunungsitoli, sesuai dengan visi daerah Kota Gunungsitoli menjadi kota yang “Maju, Nyaman dan Berdaya Saing”. Bagi para pengunjung yang ke Kepulauan Nias, silahkan berkunjung ke taman Ya’ahowu, nikmati kuliner yang lezat dan pemandangan indah Taman Ya’ahowu di pusat Kota Gunungsitoli.

Oleh: Kurniawan Harefa, SS
(Kirim pesan ke penulis)

(Penulis adalah putra daerah Kota Gunungsitoli, staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah – Bappeda Kota Gunungsitoli dari tahun 2010 s.d. sekarang, mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan di Universitas Sumatera Utara – USU Medan sejak tahun 2018)

Referensi:
https://www.wartanias.com/2016/09/di-lokasi-eks-tpi-ini-penutupan-pesta.html

Referensi Gambar:
Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Gunungsitoli, 2017.

Jumat, 02 November 2018

Menikmati Senja di Bukit Paralayang Parangtritis

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@lerengbukit/menikmati-senja-di-bukit-paralayang-parangtritis

Parangtritis adalah salah satu pantai di Yogyakarta yang sudah terkenal di kalangan wisatawan dan berada di Kabupaten Bantul. Tapi kali ini kita tidak akan membicarakan mengenai Pantai Parangtritis, melainkan bukit diatasnya yakni Bukit Paralayang yang masuk wilayah Kabupaten Gunungkidul. Di Bukit Paralayang ini kita bisa menikmati Senja yang sangat indah di atas pantai tanpa terhalang apapun. Bila beruntung, kita bisa menikmati keindahan matahari terbenam di atas laut dengan warna orangenya. Nama bukit ini sebenarnya Bukit Gupit, tetapi orang lebih mengenalnya dengan nama Bukit Paralayang karena puncaknya digunakan untuk lepas landas paralayang.


Gambar 1. Senja di Bukit Paralayang

Selain senja dengan warna orangenya yang cantik, pada musim-musim tertentu langit senja Jogja sering menampilkan warna yang sangat cantik dan membuat siapapun yang melihatnya terhipnotis akan keindahannya. Bagaimana tidak, kita bisa melihat senja/sunset dengan campuran warna biru, ungu, dan jingga/orange sekaligus.

Untuk bisa menikmati senja yang begitu indah, pengunjung hanya tinggal duduk saja di puncak atau bisa juga duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan. Bahkan di meja-meja tempat pengunjung bisa menikmati senja, saat ini sudah ditempel menu makanan dan minuman yang dilengkapi dengan nomor telepon, jadi pengunjung tinggal menghubungi nomor yang dicantumkan untuk memesan makanan, nanti makanan dan minuman akan langsung diantarkan kepada si pemesan tanpa harus repot-repot datang ke warung makan yang ada.

Rute menuju Bukit Paralayang ini apabila dari Yogyakarta, maka wisatawan bisa ke arah Bantul menuju Pantai Parangtritis, kurang lebih jaraknya 27 km atau sekitar 45 menit - 60 menit. Setelah sampai di Pantai Parangtritis, bisa mengambil jalan ke kiri menuju bukit dengan bertanya warga atau langsung melihat papan petunjuk. Karena memang akan ke bukit, maka jalannya pun sedikit menanjak, jadi jangan lupa pastikan kendaraan dalam keadaan baik. Jalannya pun sebenarnya sudah aspal tapi sedikit rusak, jadi lebih hati-hati ya. Untuk tiket masuk saat ini adalah Rp10.000 untuk 2 orang dan parkir kendaraan roda dua Rp2.000, masih tergolong normal. Setelah sampai di parkiran, pengunjung masih harus jalan kaki menuju puncak dengan menaiki tangga. Tapi tenang, anak tangganya tidak terlalu banyak kok.

Setelah sampai di puncak, lelah pun akan hilang melihat pemandangan yang disuguhkan. Pengunjung bisa menikmati senja (bila cuaca yang sedang bagus), melihat hamparan Samudera Hindia, melihat paralayang atau bahkan anda bisa melakukan paralayang bila anda memiliki keberanian untuk berada di ketinggian dan menikmati rasanya terbang diatas laut dan bukit, untuk tarifnya sekitar Rp400.000. Paralayang sendiri tidak setiap saat ada, karena tergantung angin.

Oleh: Novita Prahastiwi
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber: https://travelingyuk.com/bukit-paralayang-parangtritis/72915/

Gambar:
https://www.shutterstock.com/image-photo/paralayang-parangtritis-beach-yogyakarta-1186326814?src=CukalOCzHD4wxLec-6DX7w-1-0