Senin, 22 Oktober 2018

Berburu Wisata Kuliner Enak Khas Kota Palembang

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@lerengbukit/berburu-wisata-kuliner-enak-khas-kota-palembang

Apakah anda pernah berkunjung ke Kota Palembang nan asri ?

Selama ini Kota Palembang terkenal sebagai salah satu kota yang kaya akan objek wisata religi dan budaya. Namun jika anda kurang begitu berminat liburan ke sini sambil mengunjungi museum yang banyak ada di pusat kota, anda dapat berburu objek wisata kuliner yang juga cukup terkenal hingga keluar kota bahkan keluar pulau ! Kota Palembang memiliki ragam masakan yang cukup enak untuk anda cicipi saat berlibur ke sini bersama dengan keluarga atau teman – teman. Sehingga kota ini cocok dikunjungi oleh mereka yang menyukai hobi makan atau penikmat wisata kuliner.

Seperti dijelaskan di atas, bagi penikmat wisata kuliner, kota ini menyediakan banyak tempat destinasi yang menjamin anda pasti menyukainya, di mana sebagian besar makanan yang tersaji adalah disukai oleh banyak orang sehingga makanan ini ada di semua tempat dan sangat mudah untuk menemukannya dengan cita rasa kelas masakan resto tetapi harga yang terjangkau.

Dumplings, Dough, Filling, Oily, Hot, Chinese, Flour
Gambar : Pempek Palembang bercita rasa khas

Nah sebagai bahan rekomendasi bagi anda yang baru pertama kali berkunjung ke sini dan ingin menikmati serunya berburu objek wisata kuliner, berikut ini kami tampilkan beberapa makanan khas warga Palembang yang wajib untuk anda coba jika secara kebetulan sedang berkunjung ke sini.

1. Pempek

Food, Meals, Restaurant, Vegetable, Rice Intestines

Siapakah yang tak mengenal makanan khas Kota Palembang yang satu ini ? Namanya adalah Pempek. Terbuat dari bahan dasar yaitu ikan laut, tepung beras dicampur dengan tepung sagu. Cara penyajian adalah ditata sedemikian menarik lalu diberi saos pelengkap bernama saos cuko kental yang rasanya sangat nikmat. Makanan ini sudah lama sekali dikenal di Palembang, dan saat ini sudah memiliki banyak variasi dari bahan yang digunakan hingga saos sebagai teman makan Pempek. Contohnya adalah ada Pempek kapal selam, Pempek lenjer, Pempek keriting, Pempek adaan dan yang lainnya. Meskipun di seluruh Indonesia tersedia sajian menarik bernama Pempek, namun anda wajib mencoba yang namanya Pempek Palembang asli, rasanya memang berbeda dan mampu menjamin anda pasti ketagihan dan menyukainya.

2. Pindang Patin

Fish Soup, Soup With Pumpkin, Pike Soup With Pumpkin

Masakan khas laut ala warga Palembang bernama Pindang Patin ini merupakan makanan yang sama terkenalnya dengan Pempek tersebut di atas. Rasanya adalah segar dan super pedas, cocok dicicipi oleh anda yang menggemari ragam masakan super pedas dan penyuka seafood. Bahan utama membuat masakan ini adalah Ikan Patin, diberi campuran bumbu contohnya cabe merah, cabe rawit, bawang putih, bawang merah dan bumbu rempah lainnya ditambah dengan potongan buah mangga mentah atau nanas. Pindang enak disantap bersama dengan sepiring nasi putih dan diberi menu pendamping yaitu Sambal Mangga atau Sambal Tempoyak.

3. Laksan

Northeast Lift, Vermicelli, Cold Noodles, Salad

Kuliner khas Kota Palembang yang ketiga adalah mirip dengan sajian masakan dari mie bernama Laksan. Di Palembang sendiri anda akan kesulitan membedakan antara Laksan dengan Pempek Lenjer, keduanya memiliki tampilan sajian yang menyerupai sama persis satu dengan yang lainnya. Laksan disajikan bukan dengan menu pendamping berupa saos cuko namun disiram dengan kuah santan yang kental bercita rasa gurih dan agak pedas sesuai dengan selera si pembeli. Yang menjual Laksan dengan mudah dapat anda jumpai di ‘conter food mall – mall’, taman kota hingga pasar – pasar tradisional. Rasanya mantap untuk dijadikan sebagai menu sarapan pagi atau pendamping makan nasi pada waktu siang hari.

Yang terakhir adalah Tekwan yang menyerupai masakan tersebut di atas, hanya saja rasanya mirip bakso ikan, diberi kuah kaldu udang lalu taburan seledri, daun bawang, bawang goreng, dan terakhir diberi bihun dan jamur kuping. Selamat menikmati dan selamat berlibur.

Penulis : Kadek Nila Utami
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber tulisan : https://www.idntimes.com/food/diet/farhana/10-makanan-khas-palembang-yang-wajib-dicoba-c1c2/full/

Sumber gambar :
  1. https://pixabay.com/en/food-meals-restaurant-vegetable-3327257/
  2. https://pixabay.com/en/fish-soup-soup-with-pumpkin-2878191/
  3. https://pixabay.com/en/northeast-lift-vermicelli-1120404/
  4. https://pixabay.com/en/dumplings-dough-filling-oily-hot-669901/

Rabu, 25 Juli 2018

Menatap Palangkaraya Dari Atas Bukit Tangkiling

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@lerengbukit/menatap-palangkaraya-dari-atas-bukit-tangkiling

Palangkaraya tengah naik daun setelah ramai disebut-sebut sebagai calon ibukota negara. Saat berkunjung ke Palangkaraya, jangan lupa berkunjung ke Bukit Tangkiling, di mana Anda bisa menatap kota Palangkaraya dari atas.

Bukit Tangkiling sendiri berjarak sekitar 34 km dari pusat Kota Palangkaraya. Untuk sampai ke sini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit. Setibanya di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, segera mulailah perjalanan mendaki. Untuk sampai ke puncak bukit, Anda harus menaiki sejumlah anak tangga. Namun saat hampir sampai, Anda harus mendaki area yang lumayan terjal. Jika lelah, berhentilah sejenak di beberapa pos yang disediakan ataupun di warung makanan-minuman yang tersedia di area atas.


Gambar 1. Untuk mencapai bukit harus menaiki sejumlah anak tangga

Di Bukit Tangkiling ini, Anda akan menemukan banyak sekali batu-batu besar. Salah satunya yang terkenal adalah Batu Banama. Bentuk batu ini seperti perahu. Konon katanya, dulunya batu ini adalah bahtera (banama). Bisa dibilang, legenda Batu Banama mirip dengan legenda Sangkuriang di Jawa Barat, karena menceritakan tentang pemuda Dayak yang menikahi ibu kandungnya.

Legenda Bukit Tangkiling

Dulu hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Saat sedang memasak, si anak merengek meminta makan hingga membuat sang ibu memukul kepala si anak sampai kepalanya berdarah. Merasa diperlakukan kejam, si anak meninggalkan rumah dan berlari ke dermaga. Sang ibu pun merasa menyesal dan terus mencari, namun tak juga menemukan anaknya. Sementara itu, sang anak masuk ke kapal dan bertemu dengan kapten kapal yang kaya. Di sana ia menceritakan perihal ibunya yang sudah memukul kepalanya. Merasa iba, kapten kapal itu pun merawat lukanya dan menjadikannya anak angkat dengan nama “Tan Kim Lin”.

Setelah beberapa tahun, Tan Kim Lin tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah. Suatu ketika, tanpa sadar ia berlabuh di kampung halamannya. Saat itulah ia bertemu dengan wanita cantik yang sedang membawa sejumlah barang untuk dibarter dengan barang dagangan Tan Kim Lin. Merasa terpesona dengan kecantikan wanita itu, Tan Kin Lin pun jatuh cinta dan langsung melamarnya meski wanita bergelar Bakuwu itu mengaku sudah pernah menikah sebelumnya.

Singkat cerita, setelah melangsungkan pesta pernikahan, keduanya berbulan madu di atas banamanya. Saat itulah, Bakuwu yang sedang mencari kutu di kepala Tan Kin Lin melihat bekas luka. Tan Kin Lin pun bercerita bahwa dulu ia dipukul oleh ibunya sendiri, hingga kemudian meninggalkan kampung halamannya dan menjadi anak angkat kapten kapal yang kaya. Mendengar itu, terkejutlah keduanya ketika saling mengetahui bahwa mereka adalah ibu dan anak kandung. Tan Kin Lin pun berlari memasuki hutan, sementara Bakuwu tetap di atas banama. Di dalam hutan, Tan Kin Lin berburu babi dan kijang untuk dijadikan hewan kurban dalam acara adat penebusan kesalahannya.

Setelah berhasil mendapat hewan buruannya, ia mengumpulkan semua warga untuk menghadiri pesta penebusan (Pali) tersebut. Namun di tengah acara, Raja Pali mengirimkan kilat dan petir untuk menghukum Tan Kin Lin, hingga ia dan keenam pengawalnya berubah menjadi batu. Banama miliknya juga berubah menjadi batu, dimana Bakuwu terkurung di dalamnya. Sejak itu, oleh dialek masyarakat Dayak setempat, area di sekitar Batu Banama disebut sebagai Bukit Tangkiling (Bermula dari Tan Kin Lin).


Gambar 2. Batu Banama

Dari atas batu

Setibanya di area puncak, Anda akan menemukan batu-batu besar yang mana di atasnya terdapat patung Hindu yang dialasi selendang berwarna kuning. Naiklah ke atas batu dan lihatlah bagaimana Palangkaraya dari atas. Di segala penjuru, Anda akan melihat rimbunnya pepohonan dan beberapa pepohonan. Palangkaraya sendiri memang dikenal memiliki banyak kawasan hutan, di mana salah satunya adalah hutan lindung di Taman Nasional Sebangau.


Gambar 3. Palangkaraya dilihat dari atas

Puas menikmati Palangkaraya dari atas dan menikmati anginnya yang sepoi-sepoi, Anda bisa langsung melanjutkan perjalanan untuk menuruni bukit. Bisa dengan menuruni jalan awal keberangkatan, bisa juga menuruni jalan yang lain. Hanya saja, jika Anda menuruni jalan yang satunya, Anda tidak akan menemukan sejumlah anak tangga batu. Di sini, Anda akan merasakan trekking melewati jalanan yang terjal dan terkadang sedikit licin jika sebelumnya hari hujan.


Gambar 4. Bangunan peribadatan Hindu

Sesekali di tengah perjalanan, Anda akan menemukan bangunan-bangunan kecil yang diselimuti selendang kuning dan bangunan pura yang menciptakan nuansa mistis. Namun tak mengapa, Anda hanya perlu menjaga sikap. Bukankah menjaga kesopanan juga bagian penting dari perjalanan? Puas melihat-lihat area pura yang kosong, silahkan lanjutkan perjalanan karena tidak lama lagi Anda akan tiba di titik awal.

Akses

Dikarenakan akses angkutan umum yang kurang memadai, Anda harus menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke Bukit Tangkiling. Perjalanan bisa dimulai dari Titik Nol Kilometer Palangkaraya atau yang biasa dikenal dengan Bundaran Besar, menuju Jalan Tjilik Riwut. Setelah menempuh perjalanan 34 km, Anda akan menemukan gapura Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling di sisi kiri jalan. Untuk masuk ke dalam Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Anda hanya perlu membayar Rp 10.000 per orang.

Oleh: Rahel Simbolon
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber:
Perjalanan pribadi penulis

Sumber gambar:
Dokumentasi pribadi penulis