Selasa, 07 November 2017

Agrowisata Lidah Buaya Di Bali

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@puncakbukit/agrowisata-lidah-buaya-di-bali

Budidaya tanaman hias lidah buaya sangat mudah untuk dilakukan, hal ini dikarenakan lingkungan tumbuh dari tanaman lidah buaya ini sangat cocok untuk dikembangkan dalam skala besar di daerah tropis seperti Indonesia.

Ada tiga jenis tanaman lidah buaya yang umum bernilai komersial cukup tinggi antara lain Aloe Barbandensis dari Amerika, Aloe Ferox dari Afrika dan Aloe Sinensis dari Asia (Cina). Aloe Barbandensis adalah yang terbaik untuk dibudidayakan di Indonesia karena lebih tahan terhadap hama dan penyakit, ukuran daunnya jauh lebih besar dibandingkan jenis lainnya.

Budidaya tanaman lidah buaya beberapa tahun yang lalu sukses dilakukan di Indonesia sebagai salah satu objek wisata agrowisata dengan pangsa pasar adalah anak–anak. Juga dilakukan untuk memenuhi pasar ekspor terutama ke negara–negara di Asia seperti Jepang. Jepang merupakan salah satu negara pengguna lidah buaya terbesar di dunia, di mana kebutuhan akan lidah buaya segar bisa mencapai 20 kontainer (300 ton/bulan). Kebutuhan ini mampu dipasok oleh Brazil dan Thailand.

Aloe Vera, Plant, Healthy
Gambar : bibit tanaman lidah buaya di lokasi Banjar Bonbiyu, Desa Saba, Kecamatan Blah Batu, Bali

Lokasi perkebunan aloevera Bali atau lebih terkenal dengan nama lidah buaya ini berlokasi di Banjar Bonbiyu, Desa Saba, Kecamatan Blah Batu. Area perkebunan tersedia seluas 100 hektare ini dapat dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata edukasi keluarga jika berlibur ke Pulau Bali ini. Aloevera Bali atau alove Bali berdiri di atas lahan seluas 100 hektare, di mana pembagian lahannya adalah 28 hektare milik perusahaan Aloevera Bali sedangkan 72 hektare milik petani plasma. Agrowisata ini didirikan atas ide sebagai bentuk terhadap panggilan hati dari Mr. Hendrikus Johanes Swaneberg selaku komisaris utama yang tertarik atas penghidupan para petani kecil tanaman hias lidah buaya di Desa Saba pasca terjadinya bom Bali. Beliau selanjutnya berinisiatif untuk berinvestasi di bidang tanaman lidah buaya karena secara ekonomi mampu menguntungkan petani dalam kurun waktu 20 tahun ke depan serta memiliki bentuk tanaman yang unik dan menarik serta multifungsi, sambil membuka peluang usaha baru kepada para petani setempat.

Adapun fasilitas yang tersedia di kawasan perkebunan aloevera ini adalah rumah–rumah makan penjual makanan dan minuman, toilet bersih serta area parkir yang cukup luas dan aman bagi wisatawan. Untuk bisa mencapai lokasi ini, anda hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit dari Kota Denpasar, tepatnya kurang lebih 14 KM. Dukungan terhadap perkembangan kepariwisataan dengan menonjolkan objek wisata agrowisata tanaman herbal di Provinsi Bali mengalami kesuksesan karena masyarakat Bali itu sendiri dan juga warga negara asing yang lama menetap di Pulau Bali dan mampu menjadi bagian di dalamnya, tetap eksis terhadap pesona wisata Bali di mata dunia pada umumnya dan untuk bumi pertiwi pada akhirnya.

Kreasi Dan Olahan Dari Tanaman Lidah Buaya
Lidah buaya memiliki cita rasa yang netral atau tidak ada rasa sama sekali dan sedikit sepat/pahit, sehingga cocok diolah dalam berbagai produk olahan berupa makanan dan minuman. Saat ini ide dan kreativitas dalam mengolah lidah buaya semakin mudah untuk dilakukan dan bisa hadir kapan pun dan di mana pun dapat langsung dicoba direalisasikan.

Di sekitar lokasi wisata agrowisata lidah buaya Bali di atas, banyak dijual beragam produk olahan makanan dan minuman dari bahan baku lidah buaya. Salah satunya adalah tepung lidah buaya yang praktis bisa ditambahkan pada beragam produk olahan makanan. Proses pembuatan tepung lidah buaya membutuhkan waktu yang cukup lama. Dari 20 kilogram lidah buaya segar hanya bisa dijadikan 1 kilogram tepung. Anda harus memakai kuali yang besar untuk memasak lidah buaya hingga menjadi kering. Setelah kering, lidah buaya tersebut diblender sampai halus. Karena proses pembuatannya yang lama dan agak sulit, tepung lidah buaya yang siap pakai dijual agak mahal yaitu Rp. 200.000 per 1 kilogramnya. Misalnya untuk membuat kue nastar dicampurkan dengan selai nanas dan lidah buaya segar dengan adonan dasar dicampur dengan tepung lidah buaya. Perbandingannya adalah tepung lidah buaya yang dipakai sebanyak 40 persen saja. Rasa kuenya lebih padat. Selain untuk membuat kue, tepung lidah buaya bisa dijadikan sebagai minuman herbal dengan dicampur kunyit asam atau jahe lalu dimasukkan ke dalam kemasan menarik. Harga dibandrol mulai dari Rp. 5000 sampai Rp. 40.000.

Demikian kami menjelaskan seadanya saja semoga bermanfaat!

Penulis : Kadek Nila Utami
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi tulisan :
http://indonesiaenterpreneur.blogspot.co.id/2015/12/meraup-untung-besar-dari-bisnis-lidah.html

Referensi gambar :
https://pixabay.com/en/aloe-vera-plant-healthy-920346/


Related Posts :