Sabtu, 20 Mei 2017

Berpetualang Ke Pantai 3 Warna

Membahas tempat wisata di kota Malang memang tidak ada habisnya ada banyak objek wisata di Malang yang bisa anda kunjungi mulai dari museum, pantai, taman bermain, pemandian hingga air terjun, salah satu pantai yang mempunyai daya tarik tersendiri di kota Malang adalah Pantai Tiga Warna.

Bagi anda para traveler terutama pencinta pantai pasti sudah pernah mendengar pantai ini, sesuai namanya pantai ini mempunyai perbedaan tersendiri dari warnanya yang disebabkan karena adanya perbedaan kedalaman air lautnya, pantai 3 warna dibuka mulai pertengahan tahun 2014, meski baru dibuka, pantai ini langsung ramai di kunjungi oleh para wisatawan dari dalam kota maupun luar kota yang penasaran karena keindahanya.


Gambar 1. Pantai 3 Warna

Pantai 3 Warna berada di wilayah rehabilitasi dan Konservasi Sendang Biru, Kabupaten Malang jawa timur, pantai 3 warna di kelola oleh kelompok Bhakti Alam yang anggotanya berasal dari warga sekitar pantai, Pantai 3 Warna letaknya juga bersebelahan dengan Pantai Sendang Biru yang digunakan pintu masuk Cagar Alam Pulau Sempu.


Gambar 2. Papan petunjuk

Untuk menuju pantai 3 warna anda bisa memilih jalur yg mengarah ke Gadang-Turen, lalu ikuti terus petunjuk arah menuju Pantai Sendang Biru, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam akan ada petunjuk arah persimpangan jalan menuju Pantai Sendang Biru atau Pantai Goa Cina, ambil jalan ke kanan menuju Pantai Tiga Warna, sekitar jarak 2 km dari persimpangan jalan tadi akan ada petunjuk jalan belok ke kiri menuju TPI, ikuti jalur ke kiri, anda memasuki perkampungan warga dan menemukan arah ke Clungup Mangrove Conservation sebelum Bank BRI.

Petunjuk arah Clungup dan Mangrove, pintu masuk Pantai 3 Warna harus melalui Pantai Clungup dan Mangrove Conservation, untuk sepeda motor anda bisa melewati jalanan sempit yang berupa tanah liat, sedangkan untuk mobil akan parkir sedikit lebih jauh dari pintu masuk utama dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 1 Km menuju Clungup Mangrove Conservation.


Gambar 3. Registrasi untuk masuk ke clungup mangrove

Untuk menikmati Pantai 3 Warna anda harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang, dan di sana anda juga harus membayar jasa guide sebesar Rp 100.000 per kelompok, batas untuk 1 kelompok adalah 10 orang, jika jumlah anda kurang dari 10 orang anda bisa bergabung dengan pengunjung lain yang jumlahnya kurang dari 10 orang.

Di sini terdapat fasilitas snorkeling, anda bisa menyewa dengan harga 15.000 yang meliputi kecamatan, pelampung dan alat bantu bernafas, fasilitas di Pantai Tiga Warna juga masih sangat minim karena masih tergolong baru untuk masyarakat umum, anda hanya bisa menemui toilet di sekitar pintu masuk utama Clungup Mangrove Conservation, sedangkan warung juga hanya ada satu itu pun juga hanya menyediakan mie instan dan air minum.

Pantai Tiga Warna merupakan salah satu tempat snorkeling di Malang meski keindahanya tidak seindah pemandangan bawah laut di Karimun Jawa, Pantai Tiga Warna layak untuk anda coba.

Oleh: Fajar Fauzi
(Kirim pesan ke penulis)

Gambar: 1. http://www.tempatwisataku.id/2015/10/wisata-pantai-3-warna-malang-info.html
2. http://infotipswisata.blogspot.co.id/2016/05/wisata-pantai-tiga-3-warna-di-malang.html
3 https://www.youtube.com/watch?v=P3RV5tK_vG8

Selasa, 02 Mei 2017

Alasan Desa Wisata Wae Rebo Sering Dikunjungi Wisatawan

Desa wisata memegang peranan penting terhadap pertumbuhan perekonomian suatu daerah salah satunya adalah Wae Rebo. Wae Rebo terletak di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Desa tersebut menjadi salah satu contoh desa wisata yang maju dalam perkembangan wisatanya.


Gambar 1. Mbaru Niang Tertinggi

Desa tersebut sering dikunjungi masyarakat karena terdapat beberapa perumahan manggarai yang unik yaitu mbaru niang. Mbaru niang adalah rumah adat tradisional yang berbentuk kerucut. Di sana terdapat 7 mbaru niang, yakni Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gendang Maro, Niang Gena Pirong, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro. Niang Gendang Maro adalah mbaru niang yang paling tinggi diantara lainnya. Mbaru niang digunakan masyarakat setempat sebagai tempat untuk melakukan ritual doa minggu pagi bersama-sama.

Wisatawan dapat mengenal kebudayaan di daerah tersebut dan mengenal bagaimana kehidupan masyarakat setempat. Mata pencaharian masyarakat setempat adalah berkebun. Saat di sana, pengunjung dapat menemukan banyak kebun kopi dan kacang. Wisatawan dapat ikut berkebun dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Wisatawan juga dapat belajar menenun kain songket tradisional dari wanita di Wae Rebo tersebut.

Ada beberapa alternatif untuk menuju Wae Rebo. Dari Labuan Bajo menuju Ruteng. Dari Ruteng dilanjutkan menuju Dintor dengan menggunakan ojek. Perjalanan menggunakan ojek ditempuh kurang lebih 2 jam. Dintor adalah desa terakhir yang ditempuh sebelum sampai di Wae Rebo. Alternatif kedua menggunakan truk dari Ruteng. Truk tersebut akan melintasi Desa Cancar, Pela, Todo, dan Dintor dan akhirnya sampai di desa Denge. Truk tersebut biasanya berangkat pada sore hari dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Bisa juga menggunakan perahu dari Labuan Bajo menuju ke arah desa pesisir Nangalili. Untuk menyewa perahu dikenakan tarif 400.000 rupiah. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam untuk menyebrang ke Pulau Mules. Saat tiba di Dintor akan dilanjutkan menuju ke Denge menggunakan ojek.

Wisatawan bisa menuju Wae Rebo dengan mendaki. Perjalanan yang akan dilewati bebatuan sehingga harus berhati-hati. Wisatawan akan melewati tiga tempat istirahat, yaitu Sungai Wae Lomba yang kurang dari satu jam perjalanan dari Denge. Selanjutnya akan menemukan tempat peristirahatan kedua, yaitu Pocoroko. Di Pocoroko, dapat digunakan wisatawan untuk menelpon dan mengirim pesan karena di Wae Rebo tidak terdapat sinyal. Pos terakhir adalah Nampe Bakok yang berarti sudah dekat dengan Wae Rebo.


Gambar 2. Tanda Masuk Wae Rebo

Wae Rebo sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing. Desa tersebut terus dikembangkan oleh masyarakat setempat untuk mendukung perekonomian dan membantu memajukan pembangunan infrastruktur di tempat tersebut. Perlu diketahui, wisatawan yang berkunjung ke sana dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 225,000/orang sudah termasuk makanan dan jika tidak bermalam dikenakan biaya administrasi Rp 100,000/ orang.

Oleh: Jenny
(Kirim pesan ke penulis)

Gambar:
https://2.bp.blogspot.com/-DuE8fpQZGL4/V_Zx2BYHMgI/AAAAAAAAwKo/mkCW7eH86ngq0__1DFH7QLh5k0_FU9w4ACEw/s1600/IMG_0391a.JPG
http://2.bp.blogspot.com/-USOjxyBcPPI/VPhz6QZu7_I/AAAAAAAAAaA/MfxIYjFvLpI/s1600/IMG_20150219_212523.jpg