Kamis, 21 September 2017

Merasakan Alami dan Sejuknya Taman Hutan Raya Juanda Bandung

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@puncakbukit/merasakan-alami-dan-sejuknya-taman-hutan-raya-juanda-bandung

Taman Hutan Raya Juanda merupakan salah satu hutan lindung di Kota Bandung yang juga dibuka sebagai objek wisata. Membentang dari Dago Pakar hingga Lembang, Taman Hutan Raya Juanda menjadi salah satu spot yang wajib kamu kunjungi saat berada di Bandung. Pasalnya, di hutan raya ini kamu benar-benar akan merasakan suasana yang alami, sejuk, dan bebas polusi. Sangat cocok untuk kamu yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan kota.

Selain memiliki banyak pepohonan dan sejumlah flora langka, Taman Hutan Raya Juanda juga memiliki banyak spot menarik, antara lain Goa Jepang, Goa Belanda, Monumen Ir. H. Juanda, Taman Bermain, Museum Juanda, Curug Lalay, Curug Dago, Curug Omas, Taman Bermain, dan joging track menuju Maribaya.

Untuk masuk ke Taman Hutan Raya Juanda, kamu cukup membayar tiket masuk Rp 15.000 per orang. Cukup murah kan? Setelah tiket masuk digunting oleh petugas, kamu akan menemukan berbagai petunjuk dan jarak yang harus ditempuh menuju spot-spot penting. Awali perjalanan dengan mengunjungi monumen Ir. H. Djuanda terlebih dulu. Di area monumen ini, kamu bisa bersantai. Ada banyak pengunjung yang sering menggelar tikar di area ini untuk sekedar melepas lelah dan menikmati sejuknya udara hutan raya.


(Foto: Dokumen pribadi)

Setelah puas menikmati area monumen, silahkan lanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang. Kamu hanya perlu menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang.

Goa Jepang di Taman Hutan Raya Juanda dibuat oleh Romusha pada penjajahan Jepang, tepatnya pada tahun 1942-1945. Dulunya goa ini dimanfaatkan oleh pasukan Jepang sebagai tempat penyimpanan logistik dan amunisi, serta menjalankan komunikasi radio. Selain itu terdapat kamar-kamar yang dulu digunakan pasukan Jepang untuk beristirahat. Untuk masuk ke dalam goa, kamu tidak perlu membayar tiket masuk. Jika ingin, kamu hanya perlu menyewa senter seharga Rp. 5000 per buah dan jasa guide sebesar Rp. 20.000 per rombongan. Meski gelap, Goa Jepang jauh dari kesan mistik.


(Foto: Dokumen Pribadi)

Berpindah dari Goa Jepang, kamu bisa lanjutkan perjalanan menuju Goa Belanda dan Curug Omas Maribaya. Namun mengingat jaraknya cukup jauh, saat itu kami menyewa 2 motor dengan harga sewa Rp. 100.000 per motor. Perjalanan menuju Goa Belanda dan Curug Omas Maribaya cukup menegangkan karena jalannya menanjak, terdapat bagian yang becek, dan cukup banyak juga orang yang memilih jalan kaki. Jadi kita harus berhati-hati selama menyusuri jalan setapak itu.

Dibandingkan dengan Goa Jepang, ukuran Goa Belanda jauh lebih luas dan rapi. Dulunya goa ini digunakan sebagai terowongan PLTA, terbukti dari adanya sejumlah saluran air. Goa Belanda juga digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik dan penjara. Untuk suasananya sendiri terbilang lebih menyeramkan dibandingkan Goa Jepang. Bahkan beberapa waktu lalu, Goa Belanda sempat menjadi tempat uji nyali oleh salah satu stasiun TV.

Dari Goa Belanda, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Omas Maribaya. Sepanjang perjalanan kamu akan dibuat takjub oleh indahnya pepohonan dan sejuknya udara yang terasa, ditambah dengan aksi monyet-monyet yang asyik berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Untuk sampai ke Curug Omas Maribaya, kamu harus memarkirkan motor di jembatan lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak begitu jauh kok. Saat mulai menanjak, kamu sudah bisa mendengar bunyi derasnya aliran Curug Omas Maribaya.


(Foto: Dokumen Pribadi)

Perjalanan hari itu diakhiri di Curug Omas Maribaya karena hari sudah sore dan gerimis. Memang tidak semua spot pada hari itu dapat kami singgahi. Namun merasakan suasana yang alami menjadi nilai plus untuk kami melepas penat.

Taman Hutan Raja Juanda dapat diakses melalui Dago Pakar dan Lembang. Akses Dago Pakar merupakan yang paling mudah dan populer karena terdapat petunjuk jalan. Ditambah jalur ini juga searah dengan jalur menuju wisata Tebing Keraton yang tengah populer. Dan jika kamu tengah berada di Lembang, kamu bisa langsung masuk melalui gerbang Tahura di Maribaya. Tunggu apa lagi? Ayo berwisata ke Taman Hutan Raya Juanda!

Oleh: Rahel Simbolon
(Kirim pesan ke penulis)

Keterangan:
Artikel merupakan dokumentasi perjalanan pribadi

Senin, 11 September 2017

Indahnya Langit Malam di Pulau Tabunan

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@puncakbukit/indahnya-langit-malam-di-pulau-tabunan

Pulau Tabunan merupakan pulau kecil yang merupakan bagian dari Banyuwangi di Provinsi Jawa Timur. Melalui Pulau Tabunan kamu bisa melihat Bali karena letak pulau ini berada di tengah antara Pulau Jawa dan Bali. Untuk mencapai Pulau ini kamu bisa menyeberang dari Banyuwangi melalui Pantai Bansring dengan membayar Rp 25.000/ orang. Selain itu kamu dapat menyewa peralatan snorkeling dan pelampung. Pulau Tabunan merupakan tempat yang sangat cocok bagi kamu yang ingin menikmati alam dan indahnya laut. Pulau ini cocok dijadikan untuk tempat berkemah, snorkeling dan berenang di laut.

C:\by NUSA\DSC03537.JPG
Gambar 1. Pulau Tabunan

Keadaan lautnya cukup bersih, namun keadaan sekitar pantai cukup kotor karena banyak sampah yang terbawa arus ombak dan sampah dari warung sekitar. Pemilik warung di pulau ini adalah masyarakat Banyuwangi, di mana mereka setiap harinya menyeberang sambil membawa makanan dan minuman. Jadi jika sore hari pulau ini ditinggalkan begitu saja. Jika malam maka pulau ini sangatlah sepi dan hanya sedikit diterangi dari cahaya mercusuar yang merupakan satu-satunya bangunan tinggi yang ada di pulau tersebut.

Ketika mendirikan tenda harus memperhatikan lokasi pulau ini karena angin yang berhembus cukup kencang sehingga sewaktu-waktu dapat merobohkan tenda tersebut. Oleh karena itu lebih baik mendirikan tenda dekat dari warung yang ditinggalkan pemiliknya karena daerahnya cukup datar, terlindungi dari angin yang kencang karena dikelilingi tanaman yang tumbuh di pulau tersebut.

C:\by NUSA\DSC03064.JPG
Gambar 2. Keadaan tenda yang didirikan di Pulau Tabunan

Suasana malam yang sepi dari keramaian kota di pulau ini sangat cocok bagi orang-orang yang ingin menikmati kesunyian di alam, selain itu langit pada malam hari di pulau sangat indah dengan taburan bintang-bintang yang terlihat jelas tanpa bantuan cahaya. Namun jika ingin mengabadikan momen ini dengan lebih baik, maka kamu bisa menggunakan kamera dengan kemampuan yang mumpuni, karena jika melalui kamera hp hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan.

Sekitar pukul 05.00 kamu berjalan sekitar 200m ke arah barat dari posisi tenda dan tidak lama menunggu kamu akan menikmati indahnya pemandangan “sunrise” di Pulau Tabunan. Jika ingin berenang dengan bebas maka dapat dilakukan dekat dengan bibir pantai, namun jika ingin snorkeling maka kamu harus ke tengah laut dengan jarak kira-kira 1 km dari bibir pantai. Di laut dapat dilihat beberapa batas yang sengaja dipasang oleh masyarakat sekitar sebagai penanda batas aman laut untuk berenang. Ketika sampai di lokasi snorkeling kamu akan melihat ragam biota laut dan hewan yang hidup di area tersebut. Hanya saja dikarenakan nelayan sekitar Banyuwangi menangkap ikan dengan bom maka ekosistem lautnya menjadi rusak parah sehingga yang tersisa hanya karang yang mati dan sedikit ikan yang hidup di area tersebut.

Secara umum wisata di Pulau Tabunan sangatlah berkesan, apalagi jika berkemah di Pulau tersebut. Namun, jika hanya ingin menikmati indahnya laut saja maka dapat dipastikan kamu akan kecewa. Semoga pemerintah dan masyarakat Banyuwangi semakin sadar untuk melindungi lingkungan sekitar Pulau Tabunan demi kelestarian sehingga dapat kelak dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

C:\by NUSA\DSC03163.JPG
Gambar 3. Sunrise di Pulau Tabunan

Oleh: Ahmad Azhari Pohan
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber Gambar:
1. Milik Pribadi
2. Milik Pribadi
3. Milik Pribadi