Selasa, 02 Mei 2017

Alasan Desa Wisata Wae Rebo Sering Dikunjungi Wisatawan

Desa wisata memegang peranan penting terhadap pertumbuhan perekonomian suatu daerah salah satunya adalah Wae Rebo. Wae Rebo terletak di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Desa tersebut menjadi salah satu contoh desa wisata yang maju dalam perkembangan wisatanya.


Gambar 1. Mbaru Niang Tertinggi

Desa tersebut sering dikunjungi masyarakat karena terdapat beberapa perumahan manggarai yang unik yaitu mbaru niang. Mbaru niang adalah rumah adat tradisional yang berbentuk kerucut. Di sana terdapat 7 mbaru niang, yakni Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gendang Maro, Niang Gena Pirong, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro. Niang Gendang Maro adalah mbaru niang yang paling tinggi diantara lainnya. Mbaru niang digunakan masyarakat setempat sebagai tempat untuk melakukan ritual doa minggu pagi bersama-sama.

Wisatawan dapat mengenal kebudayaan di daerah tersebut dan mengenal bagaimana kehidupan masyarakat setempat. Mata pencaharian masyarakat setempat adalah berkebun. Saat di sana, pengunjung dapat menemukan banyak kebun kopi dan kacang. Wisatawan dapat ikut berkebun dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Wisatawan juga dapat belajar menenun kain songket tradisional dari wanita di Wae Rebo tersebut.

Ada beberapa alternatif untuk menuju Wae Rebo. Dari Labuan Bajo menuju Ruteng. Dari Ruteng dilanjutkan menuju Dintor dengan menggunakan ojek. Perjalanan menggunakan ojek ditempuh kurang lebih 2 jam. Dintor adalah desa terakhir yang ditempuh sebelum sampai di Wae Rebo. Alternatif kedua menggunakan truk dari Ruteng. Truk tersebut akan melintasi Desa Cancar, Pela, Todo, dan Dintor dan akhirnya sampai di desa Denge. Truk tersebut biasanya berangkat pada sore hari dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Bisa juga menggunakan perahu dari Labuan Bajo menuju ke arah desa pesisir Nangalili. Untuk menyewa perahu dikenakan tarif 400.000 rupiah. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam untuk menyebrang ke Pulau Mules. Saat tiba di Dintor akan dilanjutkan menuju ke Denge menggunakan ojek.

Wisatawan bisa menuju Wae Rebo dengan mendaki. Perjalanan yang akan dilewati bebatuan sehingga harus berhati-hati. Wisatawan akan melewati tiga tempat istirahat, yaitu Sungai Wae Lomba yang kurang dari satu jam perjalanan dari Denge. Selanjutnya akan menemukan tempat peristirahatan kedua, yaitu Pocoroko. Di Pocoroko, dapat digunakan wisatawan untuk menelpon dan mengirim pesan karena di Wae Rebo tidak terdapat sinyal. Pos terakhir adalah Nampe Bakok yang berarti sudah dekat dengan Wae Rebo.


Gambar 2. Tanda Masuk Wae Rebo

Wae Rebo sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing. Desa tersebut terus dikembangkan oleh masyarakat setempat untuk mendukung perekonomian dan membantu memajukan pembangunan infrastruktur di tempat tersebut. Perlu diketahui, wisatawan yang berkunjung ke sana dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 225,000/orang sudah termasuk makanan dan jika tidak bermalam dikenakan biaya administrasi Rp 100,000/ orang.

Oleh: Jenny
(Kirim pesan ke penulis)

Gambar:
https://2.bp.blogspot.com/-DuE8fpQZGL4/V_Zx2BYHMgI/AAAAAAAAwKo/mkCW7eH86ngq0__1DFH7QLh5k0_FU9w4ACEw/s1600/IMG_0391a.JPG
http://2.bp.blogspot.com/-USOjxyBcPPI/VPhz6QZu7_I/AAAAAAAAAaA/MfxIYjFvLpI/s1600/IMG_20150219_212523.jpg


Related Posts :