Rabu, 26 Februari 2014

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.

Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.



Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon


Related Posts :