Minggu, 17 Desember 2017

Mengulik Kisah Orang Rantai di Lubang Mbah Soero Sawahlunto

Sudah terbit di: https://steemit.com/indonesia/@puncakbukit/mengulik-kisah-orang-rantai-di-lubang-mbah-soero-sawahlunto

Sawahlunto, itulah salah satu kota kecil di Indonesia, tepatnya di Sumatera Barat yang hanya dihuni oleh ± 50.000 jiwa. Pada masa Hindia Belanda, Sawahlunto dikenal sebagai Kota Batu Bara hingga suatu masa, kota ini sempat mati saat penambangan batu bara dihentikan.

Namun kini, Sawahlunto telah berbenah dan menjadi "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya". Di sini Anda akan menemukan banyak sekali bangunan tua peninggalan Belanda, di mana sebagiannya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Tidak hanya bangunan kolonial, di sini Anda juga akan menemukan lubang bekas tambang batu bara yaitu Lubang Mbah Soero. Mbah Soero sendiri merupakan seorang penambang yang ulet dan gigih sehingga menjadi panutan para pekerja tambang.

Walaupun hanya berupa lubang, tempat ini memiliki kisah panjang yang menyedihkan. Berawal dari Lubang Mbah Soero, lahirlah istilah “Orang Rantai” yang merupakan sebutan untuk pekerja tambang dari berbagai daerah di Indonesia yang dipekerjakan secara paksa di lubang batu bara itu. Mengapa “Orang Rantai?” Karena setiap waktu, tangan dan kaki mereka selalu dirantai.

Ratusan “Orang Rantai” ini diperlakukan secara tidak manusiawi. Siang malam mereka bekerja. Jika ingin bertahan hidup, mereka harus terus bekerja. Bahkan kabarnya banyak pekerja tambang meninggal saat sedang bekerja, lalu mayatnya ditimbun di lubang.


Gambar 1. Foto di Galeri Tambang yang menggambarkan kerja paksa pada masa lalu

Memasuki lubang ini, Anda akan merasakan aura berbeda. Bahkan tak jarang bulu kuduk meremang. Semakin masuk ke dalam, Anda akan merasa seolah masuk ke dalam Lorong Waktu yang akan membawa Anda ke tragedi masa lalu.

Sejak 1932, Lubang Mbah Soero ditutup oleh Belanda hingga pada akhir tahun 2007, lubang ini ditemukan dengan kondisi dipenuhi air. Atas perintah Purbakala RI, Lubang Mbah Soero dikeringkan namun tidak boleh dipugar. Jadi kondisi Lubang Mbah Soero yang Anda lihat saat ini adalah yang asli. Bahkan batu bara pada dinding-dindingnya masih terjaga kalorinya meski pernah direndam air dalam waktu yang cukup lama.


Gambar 2. Lubang Mbah Soero yang lembab sudah memiliki lampu penerang

Adapun Lubang Mbah Soero memiliki ketinggian sekitar 2 m, lebar 2 m, dan kedalaman 15 m. Lampu-lampu penerang membuat kondisi lubang tidak terlalu gelap. Sambil berjalan menyusuri Lubang Mbah Soero, rasakanlah dinding-dinding batu bara yang masih terjaga keasliannya itu sambil mendengar guide menceritakan sejarah Lubang Mbah Soero termasuk penutupan salah satu lubang atas amanat tetua-tetua di Sawahlunto karena magisnya. Perlu diketahui, selama Lubang Mbah Soero dipugar, ada banyak ditemukan kerangka manusia dan botol-botol minuman beralkohol peninggalan Belanda. Wajar saja, pengunjung yang masuk ke dalam Lubang Mbah Soero harus mematuhi aturan seperti tidak berbicara kotor dan tidak sedang menstruasi bagi perempuan. Selain itu, pengunjung juga harus mengenakan topi pengaman dan sepatu bots karena kondisi lubang yang masih meneteskan air.


Gambar 3. Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero & Infobox

Adapun Lubang Mbah Soero berada di dalam Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero & Infobox. Tepatnya di Jalan Abdurrahman Hakim. Lokasi ini sangat mudah ditemukan. Mulailah perjalanan dari Pasar Inpres menuju Kantor PT Bukit Asam. Sambil berjalan, Anda akan melihat banyak bangunan kolonial seperti Hotel Ombilin, St. Barbara, dan Gedung Pusat Kebudayaan. Setibanya di PT Bukit Asam, Anda hanya perlu berjalan lurus melewati jembatan. Jaraknya hanya sekitar 650 M, di mana Anda bisa menempuhnya dengan berjalan kaki selama 7 menit.

Dengan tiket seharga Rp 8000, Anda sudah bisa menelusuri Lubang Mbah Soero dan mengulik kisah pedih para “Orang Rantai” di galeri tambangnya.

Oleh: Rahel Simbolon
(Kirim pesan ke penulis)

Catatan:
Artikel dan foto merupakan dokumentasi perjalanan pribadi penulis


Related Posts :