Senin, 29 Desember 2014

Menikmati Keasrian Desa Wisata Penglipuran Bali

Pesona Pulau Dewata, Bali memang tidak terbantahkan lagi. Dengan pemandangan alamnya yang luar biasa dan kekayaan seni budaya nan unik, Bali menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi kamu yang sudah merasa biasa dengan pantai, cobalah berjalan menuju dataran tinggi yang berada di sekitar kaki Gunung Batur. Di sana kamu akan menemukan sebuah desa wisata bernama Desa Penglipuran. Memasuki desa ini, mata kamu akan segar begitu menyaksikan seluruh rumah penduduk dengan arsitektur yang hampir serupa satu sama lain dan tertata rapi mulai dari hulu hingga hilir desa.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, penamaan Penglipuran diambil dari kata Pengeling Pura yang berarti tempat suci yang ditujukan untuk mengenang leluhur. Desa Penglipuran memiliki suasana yang tenang, asri, sejuk, dan bebas polusi. Tidak ada terlihat satu pun sampah yang berceceran di jalan. Seluruh bagian Desa Penglipuran sangat bersih. Itulah yang menjadi magnet bagi para wisatawan untuk mengunjungi desa ini. Seperti yang telah diutarakan di atas, Desa Penglipuran terlihat unik oleh karena keseragaman arsitektur rumah penduduknya. Tidak hanya itu saja, setiap rumah memiliki lorong yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Hal inilah yang menjadi tanda keharmonisan masyarakat Desa Penglipuran. Adapun keseragaman bangunan ini ditujukan untuk membina kebersamaan dan harapan untuk bisa terus hidup selaras dengan alam lingkungan.


Gambar 1. Wisatawan asing di Desa Penglipuran

Selain unik dari segi arsitektur rumah yang seragam dan berderet rapi, Desa Penglipuran juga memiliki adat yang unik yaitu larangan warga laki-laki untuk memiliki lebih dari satu istri. Bagi warga yang melanggar akan dikucilkan dari pemukiman warga dan ditaruh ke Karang Memadu yang dikhususkan bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu. Sampai saat ini belum ada warga Desa Penglipuran yang berani memiliki istri lebih dari satu. Oleh karena itu, hingga kini Karang Memadu belum pernah digunakan. Karang Memadu sendiri merupakan tanah kosong yang dipenuhi alang-alang liar.

Pesona keindahan Desa Penglipuran semakin didukung oleh keramahan penduduk setempat kepada setiap tamu yang datang. Mereka akan menyapa dengan ramah dan mempersilakan wisatawan untuk masuk ke dalam rumah. Para ibu di desa ini membuat beragam kerajinan tangan di halaman rumah masing-masing untuk dijual kepada wisatawan. Mereka tidak diperbolehkan berjualan di jalan agar kebersihan dan keasrian desa tetap terjaga. Jika ingin berkunjung, sebaiknya berkunjunglah pada sore hari, di mana penduduk telah selesai beraktivitas dan mereka menghabiskan waktu di teras rumah. Saat senja menjelang, biasanya penduduk akan berkumpul di ruang terbuka sambil membawa ayam jago kesayangan masing-masing. Bahkan tidak jarang mereka mengadu ayam-ayam tersebut.


Gambar2 . Pria di Desa Penglipuran dengan Ayam Jagonya

Jika kamu ingin mengenal Desa Penglipuran lebih jauh dan merasakan secara langsung bagaimana kehidupan masyarakat yang tetap mempertahankan kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi, kamu bisa bermalam di desa ini dengan menggunakan fasilitas homestay. Untuk memasuki desa ini, wisatawan lokal dikenakan tarif Rp 7500, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp 10.000. Adapun kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan desa dan harus diparkir di lahan yang telah disediakan dengan tarif Rp 5000, per unit.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://jalan2.com/city/bali/desa-penglipuran/
2. http://www.alambudaya.com/2007/10/desa-penglipuran-desa-adat-tradisional.html


Related Posts :