Senin, 08 Desember 2014

Megahnya Jam Gadang, Ikon Kota Bukittinggi di Sumatera Barat

Layaknya Big Ben di London, Sumatera juga memiliki bangunan jam raksasa yang menyerupai Big Ben yaitu Jam Gadang. Tidak ada yang tidak kenal dengan ikon kota Bukittinggi, Sumatera Barat ini. Dalam Bahasa Indonesia, Jam Gadang berarti Jam Besar. Berdiri gagah menatap Kota Bukittinggi, Jam Gadang seakan menjadi saksi bisu sejarah Indonesia, mulai dari zaman penjajahan Belanda, Jepang, hingga akhirnya Indonesia merdeka.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 dan sampai saat ini posisinya tidak berubah sejak dulu. Hanya bagian atapnya saja yang terus diganti. Pada masa penjajahan Belanda, atap Jam Gadang dihuni oleh patung ayam jago. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, atap Jam Gadang berganti menjadi seperti atap rumah. Selanjutnya pada masa kemerdekaan Indonesia, atap Jam Gadang diganti menjadi atap rumah gadang yang merupakan rumah adat masyarakat Minangkabau.

Adapun angka-angka pada jam ditulis dengan huruf Romawi. Ada satu hal yang dianggap unik oleh sebagian orang, yaitu penulisan angka empat dengan angka Romawi yang seharusnya “IV” justru ditulis “IIII”. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, angka IIII ditulis dengan tujuan mengenang empat orang arsitek dan empat orang yang meresmikan Jam Gadang. Ada juga cerita misteri yang mengatakan bahwa angka empat tersebut merupakan jumlah tumbal saat pembangunan. Namun setelah ditelusuri lagi, Jam Gadang bukan satu-satunya yang menggunakan angka IIII. Beberapa Post Clock, Tower Clock, dan Bracket Clock di dunia bahkan Big Ben di London menggunakan “IIII” bukan “IV” yang memang menjadi kebiasaan Romawi. Sementara penulisan angka “IV” ditulis pada masa modern.


Gambar 1. Jam Gadang

Terlepas dari penulisan angka IIII pada jam yang menurut sebagian orang masih menjadi misteri, Jam Gadang tetaplah menjadi ikon Bukittinggi yang menarik sejak dulu hingga saat ini. Sama halnya dengan Monumen Nasional yang dinaiki, menara Jam Gadang juga bisa dinaiki oleh pengunjung dengan menggunakan tangga besi yang curam dan sempit. Untuk sekali naik ke puncak, pengunjung hanya dibatasi sebanyak empat orang saja. Di bawah puncak, pengunjung bisa melihat roda mesin yang menjadi penggerak lonceng jam. Sementara itu di puncak, pengunjung bisa melihat lonceng secara lengkap beserta nama pembuatnya yaitu Vortmann dari Relinghausen. Di puncak, pengunjung akan dibuat terkesima oleh pemandangan Kota Bukittinggi yang terdiri dari lembah, bukit dan deretan bangunan kota. Jangan turun sampai anda mendengar lonceng berbunyi. Getarannya bisa mengagetkan sekaligus mendebarkan.


Gambar 2. Lonceng Vortmann dari Relinghausen

Di sekitar menara, dibuat taman yang dihuni banyak pepohonan rindang, sehingga pengunjung bisa bersantai sambil menikmati kemegahan Jam Gadang. Bila ingin berkeliling di sekitar jam, anda bisa menggunakan bendi, semacam andong. Di sekitar Jam Gadang juga banyak pedagang, mulai dari pedagang kuliner, pakaian, hingga suvenir, sehingga pengunjung tidak merasa kesulitan mencari panganan ataupun oleh-oleh. Selain sebagai objek wisata, Jam Gadang juga menjadi berkah bagi para pedagang ini.


Gambar 3. Jam Gadang di Malam Hari

Pada malam hari, penampilan Jam Gadang akan semakin mempesona dengan lampu-lampu kecil di sekeliling menara. Ditambah lampu-lampu taman ikut menyala, membuat suasana sekeliling Jam Gadang semakin semarak. Untuk mencapai Jam Gadang, pengunjung harus menempuh 2 jam perjalanan dari Kota Padang.

Oleh: Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://jurnal-ap.blogspot.com/2011/07/jam-gadang-karya-jerman-untuk-belanda.html
2. http://jurnal-ap.blogspot.com/2011/07/jam-gadang-karya-jerman-untuk-belanda.html
3. http://lokasiwisata.info/jalan-jalan-menikmati-uniknya-jam-gadang/


Related Posts :