Kamis, 06 November 2014

Uniknya Desa Tenun Sukerare

Di kabupaten Lombok tengah, provinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat desa unik bernama Sukerare. Selain menyuguhkan pemandangan alam khas pulau Lombok, desa ini juga memiliki tradisi menenun yang masih dipertahankan masyarakatnya secara turun temurun hingga saat ini.

Kain tenun memang menjadi daya tarik utama dari desa wisata ini. Kain tenun yang dihasilkan oleh para penenun setempat bukan sekedar keterampilan turun temurun saja, keterampilan ini juga berfungsi sebagai falsafah hidup dan bagian adat istiadat warga desa.

Sebagai contoh, setiap gadis Sukerare harus bisa menenun, jika tidak mereka tidak boleh menikah. Jika ada yang melanggar hal tersebut, maka keluarga dan mempelai yang bersangkutan harus menerima sanksi adat yakni membayar denda kepada seluruh penduduk desa. Sanksi tersebut berupa denda satu kilogram beras.

Sekilas, denda tersebut memang terdengar sepele, namun satu kilogram beras tersebut harus dibagikan kepada setiap kepala keluarga yang tinggal di desa itu. Karena mata pencaharian utama warga desa adalah bertani, dan kehidupan mereka cukup pas-pasan, maka hal tersebut dipandang memberatkan sehingga banyak keluarga yang memilih menghindari sanksi tersebut dengan cara mengajarkan kebiasaan menenun kepada anak gadis mereka sejak dini.


1. Berburu songket indah khas Lombok di Sukerare

Gadis Sukerare mendapatkan keterampilan menenun dari ibu mereka. Mereka diperkenalkan segala hal tentang menenun sejak usia sepuluh tahun. Selain keterampilan, sang Ibu juga mewariskan brire, yakni alat tenun khas Lombok milik mereka lengkap dengan alat penunjang lain seperti jajak, batang, tutuk dan lekot kepada anak perempuannya, seperti terlihat pada gambar.


2. Alat tenun desa Sukerare

Para gadis menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menenun sehingga jarang sekali keluar rumah. Mereka keluar rumah hanya untuk sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selebihnya mereka lebih suka melanjutkan menenun hingga menghasilkan karya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tradisi menenun yang masih dipegang kukuh ini, ternyata memberikan banyak manfaat positif bagi warga Sukerare khususnya para pemudi. Dengan menenun, para gadis memiliki penghasilan tambahan yang dapat digunakan untuk membantu penghasilan keluarga. Selain itu gadis Sukerare tidak pernah menyia-nyiakan waktu senggang dengan bergosip apalagi pacaran. Dari aktivitas menenun ini pula, gadis-gadis Sukerare mendapatkan jodohnya.

Bagaimana bisa? Ternyata, ketika menenun, suara hentakan brire terdengar hingga ke luar rumah. Suara hentakan brire memiliki arti tersendiri bagi penduduk Sukerare. Jika terdengar suara brire di sebuah rumah pada malam hari, itu pertanda bahwa di dalam rumah tersebut terdapat seorang gadis yang siap untuk dipinang. Tidak lama setelahnya pemuda yang bermaksud mencari calon istri akan bertandang ke rumah tersebut untuk mengenal si gadis lebih jauh, dalam adat Sukerare hal ini disebut midang.

Dalam rentang masa tersebut, mungkin saja seorang gadis didatangi lebih dari satu pemuda, tergantung kepada gadis tersebut. Jika gadis tersebut dikenal berbudi baik dan cantik, maka semakin banyak lelaki yang datang untuk midang mencoba mengambil hati si gadis.

Layaknya pendekatan antar muda-mudi pada umumnya, midang juga berlangsung lama, bisa berbulan-bulan atau setahun. Para bujangan mendatangi sang gadis di rumahnya di saat sang gadis menenun. Meski lebih dari satu lelaki yang menjadi tamu midangnya, pada akhirnya sang gadis yang akan menentukan pilihan. Ia akan memilih salah satu diantaranya dengan menyuruh pemuda tersebut menggulungkan benang untuknya atau memintanya membantu pekerjaan menenun lainnya. Jika sudah demikian, artinya sang gadis telah menentukan pilihan, maka satu persatu lelaki lain akan mundur.

Demikianlah, betapa keterampilan menenun memiliki arti dan fungsi besar dalam kehidupan warga desa Sukerare. Sehingga kini, hasil tenunan wanita Sukerare menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun manca Negara. Dan berkat tradisi itu pula, desa tersebut menjadi salah satu penghasil utama tenun songket di Indonesia.

Desa Sukerare berlokasi di kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Dapat ditempuh melalui jalan darat selama tiga puluh menit dari kota Mataram. Desa ini merupakan salah satu contoh sekaligus bukti bahwa sebuah desa terpencil pun mampu memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Bagian yang unik dari desa wisata ini adalah bahwa warga desa tidak hanya menjajakan kerajinan tangan berupa kain tenun kepada para turis, namun juga mampu menyajikan makna dan fungsi di balik kain tenun tersebut serta proses pembuatannya.


3. Kain tenun desa Sukerare

Oleh : Tika Dwi
Gambar:
1. http://cipikastoreid.wordpress.com/2014/07/21/berburu-songket-indah-khas-lombok-di-sukarara/
2. http://desasukarara.blogspot.com/
3. http://desasukarara.blogspot.com/


Related Posts :