Kamis, 13 November 2014

Tana Toraja: Tanah Pengharapan

Setelah menyaksikan keindahan 21 provinsi di Indonesia, seorang teman dengan mantap menyatakan bahwa Tana Toraja merupakan tempat terbaik yang pernah ia kunjungi.

Tertantang untuk membuktikan pernyataan tersebut, saya pun terbang ke Makassar. Masih butuh delapan jam perjalanan darat dari Bandara Hasanuddin menuju Tana Toraja atau sekitar 328 km, namun daripada berkeluh kesah lebih baik menikmati saja perjalanan indah ini. Sebelum tiba di Tana Toraja, ada beberapa tempat pemberhentian yang menarik untuk diceritakan.

Perhentian pertama adalah Maros, sekitar 10 km dari Bandara Hasanuddin. Maros adalah perkampungan Bugis, salah satu suku di Sulawesi Selatan, dengan bangunan rumah panggung khasnya. Rumah ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian bawah digunakan untuk memelihara binatang peliharaan, bagian tengah berfungsi sebagai tempat tinggal, sementara ruang tepat di bawah atap digunakan sebagai lumbung tempat penyimpanan padi.

Dulu hampir semua rumah menggunakan daun nipah sebagai atapnya, namun kini seng lebih banyak digunakan karena alasan ekonomis dan semakin sulitnya mencari daun nipah sejak area tempat tumbuhnya berubah fungsi menjadi tambak ikan maupun tambak udang.
Walaupun mayoritas orang Bugis beragama Islam kepercayaan animisme sebelum agama ini masuk masih dapat ditemukan. Terdapat tanda V di bagian ujung atap. Tanda tersebut dipercaya bisa melindungi rumah dari roh jahat.

Perhentian kedua dan terbaik adalah Enrekang dengan deretan Pegunungan Bambapuang yang menghijau. Bambapuang dalam bahasa lokal berarti Gunung Surga. Konon di sinilah orang Toraja kerap menggelar upacara kematian. Mereka percaya gunung ini merupakan tangga yang akan memudahkan si mati menuju surga.


Gambar 1. Gunung Nona dalam deretan Pegunungan Bambapuang

Di deretan pegunungan ini pula terdapat Gunung Nona yang bentuknya menyerupai vagina (alat kelamin perempuan). Menurut legenda, dulu tempat ini merupakan kampung Rura di mana rajanya memiliki seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang ingin dinikahkan (incest). Kemarahan para dewa atas perbuatan sang raja menghadirkan banjir besar yang pada akhirnya menenggelamkan kampung ini. Setelah air surut muncullah Gunung Nona sementara di dekatnya terbaring bukit yang bentuknya mirip penis (alat kelamin laki-laki), dengan aliran sungai di kedua belah sisinya.

Bentukan itu melambangkan hubungan laki-laki dan perempuan dari adik kakak bersaudara yang akhirnya tidak pernah terjadi. Percaya atau tidak, pemandangan indah dengan tebing-tebing batu unik ini manjur untuk menghibur mata Anda.

Di Toraja banyak sekali tebing batu yang sengaja dipahat untuk dijadikan liang . Satu liang bisa menjadi kuburan untuk sekeluarga. Tergantung luasnya. Tau-tau merupakan perlambang kalau orang yang dikubur berasal dari keluarga bangsawan. Bayangkan saja, minimal 24 kerbau harus dikorbankan untuk upacara penguburan tersebut. Itu pula sebabnya seringkali mayat orang yang meninggal dibiarkan hingga bertahun-tahun dalam tongkonan (rumah adat Toraja). Mereka diperlakukan seperti layaknya orang hidup yang sedang sakit. Menunggu keluarga siap secara ekonomi untuk menggelar pesta penguburan yang sebenarnya.


Gambar 2. Tau-tau

Oleh : Bobby Prabawa
Gambar:
1. http://nanaharmanto.wordpress.com/2010/09/26/alam-permai-tana-toraja/
2. http://www.warpednweft.com/2010/06/losing-paradise/


Related Posts :