Rabu, 05 November 2014

Sistem Subak – Potret Bali Yang Lestari

Posisi Bali sebagai destinasi favorit di Indonesia masih belum tergoyahkan. Keberagaman kenikmatan berlibur yang ditawarkannya seolah tak pernah habis digali. Selalu ada destinasi baru untuk dituju yang memuaskan kelima indera. Termasuk ketika subak ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 06 Juli 2012.

Subak merupakan sistem irigasi tradisional masyarakat Bali yang telah turun temurun dan bertahan selama ratusan tahun. Namun, sistem subak sendiri sesungguhnya lebih dari sekedar sistem pengairan yang memberi nyawa pada tanaman padi.

Sistem ini menerapkan pengelolaan sawah secara berorganisasi dengan menekankan prinsip kekeluargaan dan gotong – royong. Sistem tersebut menjadikan para petani tetap bersikap bijak dalam mengelola sawah, tidak mementingkan keuntungan pribadi, serta terbukti memberi produktivitas yang tinggi tanpa mengganggu ekosistem secara keseluruhan.

Penerapan sistem subak ini berakar pada konsep kosmologi tradisional Bali, Tri Hita Karana, yang menjabarkan hubungan harmonis antara manusia, alam dan Tuhan. Dengan kata lain, kegiatan di dalam subak tak melulu soal pertanian. Di dalamnya menyiratkan interaksi sosial antara warga dan ritual keagamaan. Itu sebabnya di areal persawahan juga dapat ditemui pura untuk bersembahyang.

Sejak subak ditetapkan oleh UNESCO itu pulalah, nama Jatiluwih memancar. Desa di Kecamatan Penebel, Tabanan, yang berjarak sekitar dua jam dari Denpasar itu, dicari mereka yang penasaran untuk memahami lebih dalam tentang subak.



Jatiluwih

Areal persawahan seluas lebih dari 300 hektare dan berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini menjadi primadona baru dalam dunia pariwisata Pulau Dewata. Turis asing maupun lokal berbondong – bondong menyambanginya demi menikmati hamparan karpet hijau yang menyegarkan setiap mata. Berbagai kegiatan petani di sawah yang masih menggunakan cara – cara tradisional bisa disimak di sini. Mulai dari menanam padi, mengolah, hingga saat panen.

Hasil panen yang paling terkenal adalah beras merah. Kendati identik dengan tanaman padi, Jatiluwih juga menghasilkan sayuran, kelapa, kopi, pisang dan lain – lain. Setiap pengunjung bisa menjajal rasa beras merah organik dan hasil panen lainnya di berbagai warung dan restoran yang banyak dijumpai di Jatiluwih. Tempat – tempat makan ini pun tak hanya menjajakan kelezatan penganan, tetapi juga tetap memamerkan kemolekan pemandangan khas pedesaan Bali dengan menghadap langsung ke areal sawah.



Kesederhanaan wajah Jatiluwih yang alami, tanpa banyak bangunan tinggi maupun komersial, dicari para pecinta naturalis. Jajaran rumah penduduk, pura, dan sungai menjadi atraksi pemandangan yang mempesona dan sejuk di mata. Kecantikan sistem subak di Jatiluwih yang berundak–undak ini juga tak pernah gagal menggoda setiap wisatawan untuk menjenguknya lebih dalam. Beruntung, kawasan ini bisa dikatakan telah siap menerima wisatawan. Tersedia jalur jogging yang nyaman dan jalur trekking memasuki areal persawahan yang telah dilengkapi arah jalan.

Walau harus mengatur langkah dengan cermat karena licinnya jalan dan rela terkena tanah, tak mengapa. Demi mendapat gambar – gambar terbaik mengabadikan tiap sudut areal persawahan di Jatiluwih ini.

By: Ade Wahyu Nurjaman
Source: Koran Kompas edisi 16 Oktober 2014
Image: - http://blog.umy.ac.id/elviyanwahyutira/files/2013/11/subak-sawah-bali.jpg
- http://www.bali-maps.net/wp-content/uploads/2010/12/jatiluwih-1.jpg


Related Posts :