Kamis, 13 November 2014

Pasuruan: Candi Belahan yang Terlupakan

Masyarakat Jawa umumnya akrab dengan bangunan candi. Ketika orang berbicara tentang candi ingatan orang pasti tertuju pada candi Borobudur atau candi Prambanan. Padahal masih banyak candi-candi lain yang terdapat di pelosok atau pedalaman lereng pegunungan. Candi Belahan misalnya merupakan candi kecil yang ditemukan di seputar pegunungan Penanggungan. Candi ini terletak 700 meter di atas permukaan laut , candi ini terletak di wilayah dusun Belahan, desa Wonosobo, Kecamatan Gempol, Paruruan, Jawa Timur.

Candi Belahan sebenarnya merupakan pertirtaan yang unik, karena salah satu patungnya Dewi Laksmi, mengucurkan air melalui kedua puting susu yang ditampung di sebuah kolam berukuran 6 x 4. Di sampingnya terdapat patung Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Di musim yang paling kemarau pun air yang mengalir dari puting susu Dewi Laksmi digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, mencuci, dan memasak. Oleh karena itu Candi Belahan lebih dikenal masyarakat dengan nama Candi Tetek.

Setiap hari, masyarakat sekitar candi, menyusuri jalan yang berliku , naik turun bukit serta melewati jalan setapak yang membelah hutan untuk mengambil air keperluan sehari-hari dengan menggunakan ember dan jerigen. Mereka harus bolak-balik beberapa kali untuk mengisi penampungan air di rumah, dari pagi hingga menjelang malam hari.

Para pria mandi bertelanjang dada menceburkan diri di kolam candi, sedangkan kaum wanita, mandi di tempat terpisah tak jauh dari lokasi candi, sementara anak-anak beramai-ramai menceburkan diri untuk mandi di kolam candi sepulang sekolah atau sehabis mengaji.



Kebutuhan air bersih dari Pertirtaan Candi Belahan tak hanya dinikmati oleh masyarakat sekitar candi yang dikenal sebagai penduduk Belahan Jawa, melainkan juga oleh warga desa yang terletak jauh di kaki gunung dan dikenal dengan nama warga Belahan Nangka, meliputi Dukuh Genengan, Jeruk Purut, Gedang, Pojok, Karang Nangka, Dieng, dan Kandangan. Juga warga Kunjoro yang bermukim berbatasan langsung dengan Mojokerto.

Memang air yang mengalir dari puting susu patung Dewi Laksmi tersebut bening dan sejuk. Untuk dikonsumsi langsung tak menjadi masalah. Bahkan menurut sebagian warga setempat , air tersebut memiliki khasiat tertentu seperti menjadikan kita awet muda dan menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu.

Candi Belahan atau Sumber Tetek, dibangun pada akhir masa pemerintahan Airlangga pada abad ke-10. Airlangga menjadi raja setelah dinobatkan pada tahun 1019, dan dikenal sebagai sosok raja yang bijak. Airlangga berhasil memajukan pertanian, perkebunan, dan perniagaan. Kitab Arjuna Wiwaha karangan Mpu Tantular dibuat pada masa kejayaan Raja Airlangga.

Airlangga kemudian mundur dan menjadi seorang pertapa dengan nama Resi Gentayu sampai wafat tahun 1049. Selama menjadi pertapa, Airlangga memiliki beberapa tempat pertapaan, salah satunya adalah candi Belahan. Penghormatan kepada Raja Airlangga karena jasa-jasanya membawa kemakmuran bagi rakyat tercermin dari patung Dewi Sri dan patung Dewi Laksmi. Konon, candi ini merupakan makam tempat penyimpanan abu Raja Airlangga . Selamat menikmati perjalanan Anda, menikmati keindahan candi Belahan.

Oleh : Bobby Prabawa
Sumber gambar :
http://randoepitu.blogspot.com/2012/10/anak-terbang-di-candi-belahan.html
Referensi :
1. Jalan-Jalan, Vol II No. 6 November 2006
2. http://wikipedia.org


Related Posts :