Selasa, 25 November 2014

Keindahan Puncak Gunung Gede Pangrango

Senja menjelang di punggung Puncak Gede Pangrango. Di bawah, di lembah Suryakencana terlihat beberapa tenda warna warni mulai mengembang. Makin gelap di antara tenda-tenda itu muncul rona-rona nyala api dari kayu yang dibakar. Sekilas pemandangan itu terlihat indah. Namun keindahan itu menyimpan potensi bahaya kebakaran.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tempat Lembah Suryakencana merupakan salah satu tempat terpopuler bagi warga Jakarta, dan Bogor yang ingin mendekatkan diri dengan alam. Namun karena kepopuleran itulah menimbulkan ancaman. Saya pernah menyaksikan lebih dari seribu pendaki memadati jalur pendakian di rute-rute gunung itu, terutama pada hari-hari besar seperti 17 Agustus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Banyak anak-anak muda yang ingin merayakan dan ikut upacara bendera di gunung itu.

Gunung Gede Pangrango sudah seperti pasar atau mal. Saya dan teman-teman pernah mendaki gunung itu lebih dari sepuluh kali, dan selama itu saya menyaksikan perkembangan kawasan gunung itu semakin buruk. Lokasi TNGGP seluas 21.975 hektar yang berada dalam jangkauan pendaki Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung, membuatnya jadi sasaran utama pendakian di akhir pekan, dan hari-hari libur lainnya. Belum lagi ancaman dari pembalakan liar, dan para perambah hutan.

Mewaspadai hal-hal semacam itu adalah itu adalah tugas utama dari pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang diresmikan tahun 1980 ini. Namun pengelolaan gunung ini terbentur masalah klasik; keterbatasan dana, sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Situasi ini terus berlanjut sampai sekarang. Untuk menyiasatinya di TNGGP ada beberapa program yang sedang berjalan seperti adopsi pohon, pusat pendidikan konservasi alam Bodogol, pusat penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa, yang terbaru adalah suaka elang yang bermitra dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.


Gambar 1. Gunung Gede Pangrango

Contoh kecil bisa dirasakan, terkadang para pendaki ingin mendaki di malam hari, dengan tujuan ingin sampai di puncak saat Matahari terbit, sehingga tidak perlu menginap untuk menyaksikan pemandangan alam yang indah itu. Berjaga di malam hari tentu akan menjadi pekerjaan tambahan bagi staf TNGGP. Namun hal ini disiasati dengan membentuk kelompok relawan yang diberdayakan untuk mengontrol pendakian, terutama di malam hari. Para relawan ini biasanya mendata pendaki dan mencocokkannya dengan Simaski (Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi) yang harus dimiliki para pendaki.

Kemudian, apakah para pendaki cukup menjadi penikmat saja? Tentu tidak, para pendaki dan pengunjung pun bisa menjadi mitra. Paling tidak pertama-tama adalah dengan menikmati dan mencintai alam Gunung Gede Pangrango secara benar. Caranya sederhana, para pendaki tidak boleh membuang sampah sembarangan atau lebih baik lagi jika para pendaki memunguti sampah yang mereka temukan ketika turun gunung, untuk mengurangi sampah yang berserakan di kawasan Gunung Gede Pangrango tersebut. Selamat mendaki, dan jagalah kebersihan dan keindahan kawasan Gunung Gede Pangrango.

Oleh : Bobby Prabawa
Referensi :
1. National Geographic, Traveler, Vol 1 No. 4, 2009
Sumber gambar :
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_gedepangrango.htm


Related Posts :