Kamis, 30 Oktober 2014

Ada Jenazah Tak Dikuburkan di Bali

Bali sangat terkenal akan pesona pantainya yang indah. Sampai-sampai turis mancanegara pun jatuh cinta pada Bali. Namun tahukah kamu, bahwa Bali memiliki tujuan wisata lain yang berbeda dari wisata Bali pada umumnya. Cobalah beranjak dari pantai dan beralihlah ke kuburan. Kenapa harus ke kuburan? Karena kuburan di Bali ini berbeda dari kuburan-kuburan lainnya.

Sebut saja Kuburan Trunyan yang berada di daerah Bangli. Walau disebut kuburan, jenazah-jenazah yang diantarkan ke sini tidak pernah dikuburkan di dalam tanah. Seluruh jenazah yang diantarkan ke kuburan ini diletakkan di atas tanah lalu ditutup dengan ancak saji yang berbentuk segitiga berukuran panjang. Sementara itu, benda-benda peninggalan jenazah diletakkan di sekitar ancak saji, baik itu foto, sepatu, radio, uang, dan perhiasan.

Kuburan ini berlokasi di pinggiran Danau Batur. Untuk mencapainya, pengunjung harus menggunakan perahu dari Dermaga Danau Batur dengan waktu tempuh 15 menit dan tarif berkisar Rp 150.000-Rp 300.000 per orang. Setibanya di lokasi, pengunjung bisa melihat secara langsung tengkorak-tengkorak yang dideretkan. Anehnya, walau jenazah dibiarkan begitu saja, tidak dikubur apalagi dibakar seperti biasanya, tidak ada sedikit pun tercium aroma busuk khas bangkai. Bagi wanita yang tengah haid tidak diperbolehkan untuk mengunjungi kuburan karena dianggap tidak suci.


1. Jenazah ditutupi oleh Ancak Saji

Menurut legenda, dahulu ada empat bersaudara yang terhipnotis dengan semerbaknya wangi Taru Menyan. Merasa penasaran, mereka pun mencari asal wangi itu. Pada akhirnya, keempatnya pun tiba di Trunyan dan seketika si sulung jatuh cinta pada Dewi penunggu pohon. Setelah direstui ketiga saudaranya, si sulung menikahi dewi tersebut. Trunyan pun menjadi kerajaan kecil. Pohon besar Trunyan masih mengeluarkan aroma semerbak. Supaya aroma wangi itu tidak menghipnotis orang untuk datang mencari, Raja pun memerintahkan masyarakatnya agar menghilangkan bau itu dengan membiarkan jenazah membusuk di Tanah Trunyan. Konon, Kuburan Trunyan tidak mengeluarkan aroma busuk karena diserap oleh Pohon Trunyan.


2. Taru Menyan

Di lokasi kuburan ini terdapat tiga macam kuburan. Pertama, berada di dekat Pohon Trunyan. Jenazah juga harus dalam keadaan utuh. Dengan kata lain, jenazah korban kecelakaan dilarang dikuburkan di sini. Kedua, kuburan untuk jenazah yang tidak wajar, seperti korban kecelakaan dan korban bunuh diri. Ketiga, jenazah perawan dan bujangan yang tidak pernah menikah. Dari ketiga ini, hanya pada kuburan pertama, jenazah bisa diletakkan begitu saja dan tidak berbau. Sementara kedua kuburan lainnya menjalankan cara pemakaman seperti biasa yakni dikubur di dalam tanah. Dua kuburan ini dianggap tidak suci sehingga tidak boleh dikunjungi.


3. Tengkorak di Kuburan Trunyan

Masih ada pantangan lainnya di kuburan ini. Pertama, ketika mengantar jenazah, wanita dilarang ikut dalam rombongan. Jika dilanggar, desa kediaman wanita tersebut bisa ditimpa bencana. Kedua, tulang dan tengkorak tidak boleh disentuh apalagi dibersihkan sebelum ada upacara pembersihan. Tulang dan tengkorak boleh disentuh setelah diupacarakan.

Pengunjung bisa bebas berfoto di lokasi kuburan asalkan tetap memperhatikan langkah. Jangan sampai kaki kita menginjak tulang-tulang yang berserakan. Tradisi yang berbeda dan menakjubkan inilah yang akhirnya bisa membuat kita berdecak kagum atas Indonesia yang unik.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travel.detik.com/read/2013/05/02/114532/2236133/1383/warga-desa-trunyan-tak-pernah-mengubur-jenazah
2. http://travel.detik.com/read/2013/01/14/170614/2141775/1383/kisah-di-balik-tengkorak-tengkorak-desa-trunyan
3. http://travel.detik.com/readfoto/2012/11/02/163815/2080052/1384/8/trunyan-kuburan-di-bali-yang-penuh-tengkorak


Related Posts :