Rabu, 26 Februari 2014

Serunya Arak-arakan 17 Agustusan di Cicalengka

Jam 6.30 waktu setempat. Jalan yang akan dijadikan tempat arak-arakan masih cukup lenggang. Tetapi sekitar 5 menit kemudian mulai ramai. Para sopir angkutan umum tidak mau melanjutkan perjalanan. Mereka menghentikan kendaraannya dan memaksa penumpang untuk turun. Untung tujuan kami sudah dekat. Kami pun berjalan menuju rumah saudara yang letaknya di pinggir jalan. Ya, kami sekarang ada di kota kecamatan bernama Cicalengka kabupaten Bandung, yang merupakan kota kecil kelahiranku.

Saat itu orang-orang sudah tumpah ruah ke jalanan. Ramai juga pedagang memenuhi pinggir jalan dengan aneka jajanan. Mulai dari es lilin, makanan ringan, balon dan lain sebagainya. Nenek, kakek, bapak, ibu, remaja, anak-anak bahkan bayi pun seolah tak mau kehilangan momen itu. Ya, hiburan gratis yang sangat mengesankan bagi kami sebagai warga desa. Selain itu juga arak-arakan ini jarang terjadi. Biasanya diadakan setahun sekali, tapi sudah beberapa tahun terlewati begitu saja dengan berbagai alasannya.

Tak berapa lama aku segera berdesak-desakan. Melihat satu per satu iring-iringan. Suara petasan dari lodong terdengar memekakkan telinga. Orang-orang di pinggir jalan ikut berteriak, tapi mereka hanya mundur sedikit ke belakang. Kemudian maju lagi untuk melihat tampilan berikutnya.

Yang khas dari arak-arakan ini adalah badawang. Itu lho orang-orangan dalam bentuk besar yang mirip ondel-ondel di Jakarta. Selain itu juga ada yang disebut peot jabrig. Itu berupa topeng monster yang diberi pakaian karung goni. Isinya sih manusia yang biasanya bertugas untuk menakut-nakuti. Walau kita tahu isinya manusia, sering kita merasa kaget dan takut saat didekatinya. Apalagi jika mulutnya terbuka seolah mau memakan kita. Hii…





Yang menarik perhatian adalah pria yang mengenakan pakaian wanita. Mereka kelihatan sangat cantik. Ada yang berperan sebagai orang hamil, sebagai wanita genit, pengantin perempuan dan banyak lagi.

Oh ya, kita itu punya sebuah desa penghasil sayur-sayuran. Namanya desa Dampit. Desa ini langganan juara arak-arakan tujuh belas agustusan. Kreativitasnya luar biasa dalam mengemas jampana (rumah-rumahan kecil yang digotong empat orang) dengan berbagai sayur-sayuran. Ada yang dihiasi kacang merah, bawang daun, tomat dan lainnya. Ternyata ada juga sejenis kerupuk yang menghiasi bagian atapnya. Bahkan beberapa ekor kambing muda diletakkan di atasnya.



Tak lupa seorang anak baru gede mengenakan pakaian nyentrik dengan selendang bertuliskan miss Dampit. Gadis kecil yang lincah itu tak keberatan para penonton mengabadikan penampilannya. Ia langsung bergaya saat orang-orang berniat memotretnya. Setiap desa kadang per Rw-nya menampilkan pawai beraneka rupa. Benar-benar puas mata memandangnya. Bangga rasanya menyaksikan atraksi pencak silat yang kompak, pasukan drum band, sebuah desa yang menunjukkan geliat ekonominya. Ya, Cicalengka memang cukup terkenal sebagai sentra penghasil kerudung di Jawa Barat ini.

7 jam kemudian, pawai ini usai sudah. Sampah masih terlihat berserakan. Kendaraan pun mulai leluasa bergerak di jalan. Kutinggalkan desaku dan kenangan tentang arak-arakan dengan gembira. Dalam hati berharap semoga bisa melihat hal ini lagi di tahun berikutnya. Hiburan rakyat gratis, dari rakyat dan untuk rakyat yang menggambarkan kegembiraan hari kemerdekaan Indonesia.

Mungkin satu yang tidak boleh terlupa, esensi kemerdekaan itu sendiri. Kita tidak hanya gembira karena merdeka dari penjajahan bangsa lain, tapi kita juga harus merasa merdeka dari korupsi dan tindakan anarkis yang semakin menjadi-jadi di negara tercinta ini.

Oleh : Dewi Iriani


Related Posts :